1 Sura Be Mangkunegaran 1960

Selasa-Rabu (16-17/6), Mangkunegaran memasuki tahun Sura Be 1960 dengan serangkaian kegiatan mulai dari Purwaning Dal 1959, Kirab Pusaka Dalem, Semedi 1 Sura, Laku Sembah Catur, dan Larasati sebagai peringatan 1 Sura Be1960 sebagai upaya mulih atau pulang untuk meraih pulih.
Mulih untuk pulih dalam peringatan 1 Sura Be 1960 Mangkunegaran menjadi sebuah laku yang dilakukan sepanjang 24 Jam. Mulih disimbolisasikan dalam tiga lapisan yang saling melapisi. Pertama, perjalanan geografis, yaitu kembali ke Solo dan ke Pura Mangkunegaran. Kedua, perjalanan identitas, yaitu kembali ke akar kebudayaan yang mengandung nilai tirakat dan laku. Dan yang ketiga, perjalanan paling dalam, yaitu kembali ke dalam diri sendiri menuju manunggal dan suwung, keheningan yang memulihkan. Dari mulih itulah pulih tumbuh.
“1 Sura Be 1960 Mangkunegaran merupakan sebuah undangan untuk mulih, yaitu hadir, melepaskan, dan menyambut. Mangkunegaran menyiapkan seluruh rangkaian sebagai satu kesatuan laku: dari Purwaning Dal 1959 sebagai ungkapan syukur di Pracima Tuin, Kirab Pusaka Dalem yang berjalan tapa bisu mengelilingi tembok luar Pura, semedi di Pendhapa Ageng dan Dalem Ageng pada tengah malam, dan aktivitas meditasi di Pracima Tuin,” disampaikan oleh G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo, Ketua Panitia Penyelenggara 1 Sura Be 1960.
Tirakat 24 Jam dalam Tiga Fase Berkesinambungan
Pada 16 Juni 2026, rangkaian ATITA, yaitu fase melepaskan yang telah lewat, dibuka dengan doa bersama dan santap sore (mutih) sebagai ungkapan syukur sekaligus pembuka laku tirakat, di Pracima Tuin.
Tamu undangan kemudian memasuki pameran instalasi Surakusuma di Bale Sisworini, sebuah pameran yang dipersembahkan oleh Sanasuka bagian dari Abdi Muda Mangkunegaran. Pameran ini merupakan representasi pengalaman menelusuri tiga dimensi waktu: Atita (yang telah lewat), Atiki (saat ini), dan Anagata (yang akan datang). Pameran ini terbuka untuk masyakarat mulai dari 18 Juni hingga 21 Juli 2026.
Setelah itu, akan dilanjutkan dengan prosesi Kirab Pusaka Dalem, arak-arakan pusaka keraton yang dilangsungkan setiap tahun dalam momentum 1 Sura. Arak-arakan ini akan berjalan dalam tapa bisu mengelilingi tembok luar Pura Mangkunegaran.
Pada tengah malam tepat pada pergantian tahun, dilanjutkan dengan ATIKI, yaitu fase untuk hadir di ruang antara atau ruang kosong, melalui sebuah ritual Semedi di Pendhapa Ageng dan Dalem Ageng. Semedi merupakan puncak laku tirakat malam 1 Sura.
Keesokan harinya, pada 17 Juni 2026, Mangkunegaran menggelar kegiatan ANAGATA, yaitu fase menyambut yang akan datang. Akan ada kegiatan meditasi yang memberikan pengalaman sensori yang berakar pada tradisi.
Dimulai dengan Laku Catur Sembah sebagai ritual penyambutan fajar, dilanjutkan dengan menulis kartu harapan, dan ditutup dengan sesi Larasati: meditasi nafas dan harmoni yang berkolaborasi dengan Terigu Studio dan Bottlesmoker. Rangkaian kegiatan ini memberikan pengalaman yang berakar pada tradisi Jawa sebagai cara tubuh, jiwa, dan kesadaran menyambut yang akan datang. Inilah saat di mana mulih menjadi pulih.
Tahun Be ini membawa kedalaman tersendiri karena menandai waktu untuk menyusun ulang diri. Mangkunegaran berharap siapa pun yang hadir di 1 Sura Be 1960 Mangkunegaran benar-benar mulih dan menemukan pulihnya.