Mangkunegaran MakaN-MakaN Meriahkan Perayaan Adeging Mangkunegaran ke-269

Mangkunegaran MakaN-MakaN Meriahkan Perayaan Adeging Mangkunegaran ke-269

Jumat - Minggu (1-3/5), lebih dari 100 tenant kuliner turut meramaikan gelaran festival kuliner tahunan bertajuk Mangkunegaran MakaN-MakaN 2026 di Pamedan, Pura Mangkunegaran. Mangkunegaran kembali menggelar acara ini sebagai bagian puncak rangkaian perayaan Adeging Mangkunegaran ke-269.


Mangkunegaran MakaN-MakaN resmi diawali dengan prosesi kirab para penari dan abdi dalem yang membawa ratusan apem, berjalan pelan, dari Pura Mangkunegaran menuju panggung yang berada di depan bangunan Kavalerie-Artillerie untuk melakukan tarian Umbul Donga.


G.R.Aj. Ancilla Marina Sudjiwo, sebagai perwakilan Mangkunegaran, hadir memberikan sambutan dan secara resmi memulai pagelaran Mangkunegaran MakaN-MakaN 2026. Pembukaan Mangkunegaran MakaN-MakaN secara simbolis ditandai dengan pembagian apem 10 rasa yang dilakukan oleh para abdi dalem.


Sebagai rangkaian acara Adeging Mangkunegaran ke-269 yang memiliki tema Spirit Legiun Mangkunegaran, Mangkunegaran MakaN-MakaN hadir dengan dengan ikon kuda sebagai simbol keprajuritan, keberanian, dan disiplin tinggi yang menjadi warisan Legiun Mangkunegaran, unit militer elite yang didirikan sejak K.G.P.A.A. Mangkoenagoro II.


“Perayaan 269 ini bukan hanya tentang mengenang usia, tetapi tentang bagaimana untuk terus menghadirkan Mangkunegaran tetap relevan bagi masyarakat hari ini. Spirit Legiun dimaknai sebagai keberanian untuk melangkah, disiplin dalam menjaga nilai, dan keberanian dalam menghadapi perubahan” ucap K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X.


Selain dimeriahkan oleh lebih dari 100 tenant kuliner, Mangkunegaran MakaN-MakaN 2026 juga dimeriahkan oleh panggung hiburan dan berbagai aktivasi komunitas. Soloensis, Man Osman, dan Traficjam menjadi musisi asal solo yang tampil di Mangkunegaran MakaN-MakaN 2026.


Melalui Mangkunegaran MakaN-MakaN 2026, interaksi sejarah, kuliner, dan budaya yang hadir menjadi wujud nyata dari visi Mangkunegaran untuk menjadi pusat kebudayaan adaptif namun tetap memegang teguh akar sejarah.

Lainnya yang serupa